Skip to main content

Harus Menunggu 1 Tahun Untuk Berubah?

Tahun baru harapan baru. Buat saya itu slogan yang aneh, sama anehnya dengan orang-orang yang bela-belain menghadapi camer buat dikasi ijin bawa pacar atau bawa satu keluarga penuh keluar buat tahun baru yang katanya membawa harapan baru yang entah apa. "Pokoknya ini malam kita pesta!" Mungkin itu slogan yang lebih benar atau yang sedikit naif: "saya cuma mau liat kembang api".
berubah, baik
Teori Darwin yang penuh omong kosong dan sesat
Apakah harus menunggu tahun baru untuk harapan baru? Sorry, bukan mau nge-judge juga bukan mau sok intelek dan menggurui, buat saya perayaan tahun baru yang kebanyakan gak jelas justru menunjukkan ketiadaan harapan dan rendahnya keinginan atau usaha untuk berubah. Padahal, Tuhan sudah memberikan kita detik, menit, jam, pagi, siang sore, malam, hari, lusa, minggu, bulan yang tanpa kita sadari justru lebih banyak kita sia-siakan. Ayo, ngaku aja?!

Bukan bermaksud SARA, lebih mengejutkan, hari tahun baru yang sejatinya hari perayaan umat Nasrani justru lebih banyak dimeriahkan oleh orang non Nasrani. Buktinya tetangga saya yang Nasrani malah adem ayem aja kumpul bareng keluarga/berdo`a dirumahnya pas tahun baru, padahal yang lain lagi sibuk tak menentu dijalanan entah mau ke mana. Lucunya, muka orang-orang yang ada dijalanan malam itu lebih banyakan yang bengong karena macet daripada yang ceria.

Jadi apa maksud saya dan pikiran kolot saya ini? Tak lain tak bukan adalah agar kita belajar untuk lebih manfaatkan dan mensyukuri setiap detik yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada kita beserta segala yang menyertainya. Harapan bisa kita buat kapan saja, tapi kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi. Kita bisa sangat beruntung hari ini, tapi kita bisa sangat, sangat sial esok hari.

Konon, berubah adalah salah satu hal yang paling sulit dilakukan di dunia ini. Sebuah harapan dan perubahan hanya bisa diraih dengan kegigihan dan doa. Jadi, jika kita hanya berharap dan menunggu, apalah artinya menempuh sekian kilometer hanya untuk sebuah momen berharga 1 detik?

Comments

Popular posts from this blog

Believe Me: Ternyata Cabut Gigi Itu Tidak Sakit!

Saya mau share pengalaman cabut gigi yang bagi sebagian orang begitu "horor". Seperti biasa, sebelum dicabut saya tanya sana-sini. Yang ditanya ya macam-macam. Mulai dari biaya, dokter, tempat dan pastinya: "sakit nggak siiihh?". Karena ini pengalaman pertama, maka saya akan ulas tuntas bagi para pembaca.
Selasa, 25 Juni 2013 saya telah resmi kehilangan 2 geraham. Ingat, dua. Harus diakui, untuk urusan gigi saya memang bukan contoh yang baik, khususnya bagi anak-anak.
Problem Gigi
2 geraham bawah kiri saya sudah dalam keadaan kritis. Dokter bilang nomor 36, 37 (ternyata gigi punya nomer antrian juga). Kondisinya? Kayak tanah dihantam meteor. Saya gak akan beri gambaran lebih detil deh..., parah.
Kunjungan Pertama Oke, lanjut. Seminggu sebelumnya saya sudah datang, tapi berhubung gusi sedang meradang, operasi pun batal. Saya hanya diberi antibiotik dan sejenis painkiller. Sebenarnya bayar, kena Rp50000. Hehehehee...
Kunjungan Yang Kedua
Seminggu berlalu, bengkak pun hi…

Perbedaan Jacket, Sweater, Cardigan, Jas dan Blazer

Mungkin sudah banyak yang mengetahui 5 jenis outerwear ini, tapi masih banyak juga yang keliru membedakannya. Blazer disebut jacket, cardigan disebut sweater dan begitu seterusnya. Agar tidak salah kaprah, berikut perbedaan masing-masingnya. 1. Jacket Jacket adalah outerwear yang memiliki banyak varian bahan dan desain seperti kulit, parasut, denim. Umumnya memakai bahan yang kedap air atau tidak mudah basah serta berat dan akan terasa gerah jika dipakai dalam waktu yang lama.
2. Sweater Sweater adalah outerwear berkontur tebal dengan bahan yang lembut dan hangat. Biasanya dari benang wol. Kekeliruan sering terjadi saat menyebut sweater sebagai cardigan. Sweater merupakan terusan, tanpa kancing atau resleting.
3. Cardigan  Cardigan bisa dibilang turunan dari sweater tapi dengan kontur yang lebih tipis dan slim. Desain cardigan bisa dibilang seperti hasil 'kawin silang' antara sweater dengan kemeja, hal yang jadi perbedaan dasar antara sweater dengan cardigan.
4. Jas Jas merupakan…

Aturan Mengenai Lagu Plagiat

Lagu plagiat tak lagi berdasar pada 8 bar! Undang-Undang Hak Cipta Tahun 2002 sebagai perbaikan dari Undang-Undang Hak Cipta Tahun 1982 mulai disosialisasikan. Musisi Indonesia dituntut lebih kreatif dan hati-hati dalam mengarang lagu.

Salah satu hal yang paling ditekankan dalam sosialisasi tersebut adalah hal baru yang disebut substantial part. ”Yaitu, bagian terpenting dalam musik yang pernah dikenal orang,” jelas James F.Sundah, musisi senior sekaligus ketua bidang teknologi informasi dan apresiasi seni PAPPRI. Substantial part mempertegas batasan sebuah lagu dikatakan plagiat atau tidak. Sebelumnya, kata James, sebuah lagu dikatakan plagiat alias menyontek jika memiliki kesamaan dengan lagu lainnya sebanyak 8 bar.

”Tapi, dengan aturan baru ini, belum sampai satu bar pun, jika sudah terdengar seperti lagu milik orang lain, bisa dikatakan plagiat,” jelasnya setelah pengumuman Lomba Cipta Nyanyian Anak Bangsa 2008 di Hotel Millenium Minggu.
Kesamaan itu bisa dalam bentu…