Skip to main content

Belajar Jadi Diri Sendiri

Dimasa sekarang, secara sosial kehidupan amatlah keras. Tingginya tingkat persaingan serta budaya yang mulai pudar membuat hidup di dunia modern ini seolah tak lebih baik daripada di dalam rimba. Semua orang seperti terseret dalam paradigma "aku". Hal yang pada akhirnya justru membuat frustasi saat menerima kenyataan bahwa ternyata kita tidak bisa untuk lebih baik.

Cemoohan, rasa minder, sombong dan dengki adalah gambaran nyata kehidupan sosial saat ini. Gaya hidup televisi seolah mendoktrin orang-orang untuk melakukan, membeli dan menggunakan sesuatu yang sesungguhnya di luar kemampuannya demi satu kata: "eksistensi". Jika tidak bisa mengikuti maka akan merasa rendah (dari orang lain). Sungguh sulit tuk dimengerti.

Benarlah putuah bijak, jika "hidup harus punya prinsip". Tanpa ada prinsip dalam hidup, kita tak ubahnya sehelai daun yang jatuh ke dalam aliran sungai. Prinsip adalah dayung perahu kita, layar bagi kapal kita.

Aku sudah sering melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa mereka yang tidak mampu berlagak kaya, mereka yang tak pintar berlagak jenius, gengsi dan ego di atas segalanya, seolah ingin mengatakan "aku lebih baik" dan aku berada di "level" ini. Namun pada akhirnya mereka jatuh tak ubahnya daun kering dari ranting tertinggi, jatuh entah kemana...

Sudah bukan waktunya hidup demi dianggap keren, kaya, mampu dan kuat. Buatku, sekarang aku harus belajar jadi diri sendiri dan membuktikan bahwa aku hidup untuk mampu menjadi lebih baik tanpa harus terobsesi dengan "eksistensi".


Comments

Popular posts from this blog

Believe Me: Ternyata Cabut Gigi Itu Tidak Sakit!

Saya mau share pengalaman cabut gigi yang bagi sebagian orang begitu "horor". Seperti biasa, sebelum dicabut saya tanya sana-sini. Yang ditanya ya macam-macam. Mulai dari biaya, dokter, tempat dan pastinya: "sakit nggak siiihh?". Karena ini pengalaman pertama, maka saya akan ulas tuntas bagi para pembaca.
Selasa, 25 Juni 2013 saya telah resmi kehilangan 2 geraham. Ingat, dua. Harus diakui, untuk urusan gigi saya memang bukan contoh yang baik, khususnya bagi anak-anak.
Problem Gigi
2 geraham bawah kiri saya sudah dalam keadaan kritis. Dokter bilang nomor 36, 37 (ternyata gigi punya nomer antrian juga). Kondisinya? Kayak tanah dihantam meteor. Saya gak akan beri gambaran lebih detil deh..., parah.
Kunjungan Pertama Oke, lanjut. Seminggu sebelumnya saya sudah datang, tapi berhubung gusi sedang meradang, operasi pun batal. Saya hanya diberi antibiotik dan sejenis painkiller. Sebenarnya bayar, kena Rp50000. Hehehehee...
Kunjungan Yang Kedua
Seminggu berlalu, bengkak pun hi…

Perbedaan Jacket, Sweater, Cardigan, Jas dan Blazer

Mungkin sudah banyak yang mengetahui 5 jenis outerwear ini, tapi masih banyak juga yang keliru membedakannya. Blazer disebut jacket, cardigan disebut sweater dan begitu seterusnya. Agar tidak salah kaprah, berikut perbedaan masing-masingnya. 1. Jacket Jacket adalah outerwear yang memiliki banyak varian bahan dan desain seperti kulit, parasut, denim. Umumnya memakai bahan yang kedap air atau tidak mudah basah serta berat dan akan terasa gerah jika dipakai dalam waktu yang lama.
2. Sweater Sweater adalah outerwear berkontur tebal dengan bahan yang lembut dan hangat. Biasanya dari benang wol. Kekeliruan sering terjadi saat menyebut sweater sebagai cardigan. Sweater merupakan terusan, tanpa kancing atau resleting.
3. Cardigan  Cardigan bisa dibilang turunan dari sweater tapi dengan kontur yang lebih tipis dan slim. Desain cardigan bisa dibilang seperti hasil 'kawin silang' antara sweater dengan kemeja, hal yang jadi perbedaan dasar antara sweater dengan cardigan.
4. Jas Jas merupakan…

Aturan Mengenai Lagu Plagiat

Lagu plagiat tak lagi berdasar pada 8 bar! Undang-Undang Hak Cipta Tahun 2002 sebagai perbaikan dari Undang-Undang Hak Cipta Tahun 1982 mulai disosialisasikan. Musisi Indonesia dituntut lebih kreatif dan hati-hati dalam mengarang lagu.

Salah satu hal yang paling ditekankan dalam sosialisasi tersebut adalah hal baru yang disebut substantial part. ”Yaitu, bagian terpenting dalam musik yang pernah dikenal orang,” jelas James F.Sundah, musisi senior sekaligus ketua bidang teknologi informasi dan apresiasi seni PAPPRI. Substantial part mempertegas batasan sebuah lagu dikatakan plagiat atau tidak. Sebelumnya, kata James, sebuah lagu dikatakan plagiat alias menyontek jika memiliki kesamaan dengan lagu lainnya sebanyak 8 bar.

”Tapi, dengan aturan baru ini, belum sampai satu bar pun, jika sudah terdengar seperti lagu milik orang lain, bisa dikatakan plagiat,” jelasnya setelah pengumuman Lomba Cipta Nyanyian Anak Bangsa 2008 di Hotel Millenium Minggu.
Kesamaan itu bisa dalam bentu…