Skip to main content

Salah Kaprah Soal OSPEK



OSPEK jadi fenomena akhir-akhir ini. Menurut saya, kegiatan OSPEK bisa sampai memakan korban jiwa bukan hanya kesalahan oknum dan sistem, tapi juga karena minimnya pemahaman dari kegiatan OSPEK itu sendiri.

OSPEK merupakan singkatan dari Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Tujuannya adalah agar mahasiswa baru bisa mengenali lingkungan akademis mereka, seperti: sarana prasarana, staff dosen, karyawan dan juga para senior. Jadi, sebenarnya kata ospek sendiri bermakna positif. 

Kenapa ospek diadakan? Karena kehidupan dan sistem akademis di kampus hampir sangat berbeda dengan di sekolah, sehingga mahasiswa baru memerlukan sarana agar mereka bisa mengenali bagaimana sistem dan kehidupan akademis yang berlaku di lingkungan kampus tersebut.

Berdasarkan hal di atas, jelas sekali bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan ospek, lalu dimana masalahnya? Masalah sesungguhnya ada pada apa yang kita sebut plonco. Ya, perploncoanlah yang telah merusak image baik ospek. Jadi kegiatan plonco itu yang seharusnya dihilangkan.

Plonco menurut sejarah berarti menggunduli atau bisa dimaknai dengan menelanjangi, atau yang lebih ekstrim: mem-bully. Anehnya, KBBI sendiri menyamakan arti kata plonco dengan ospek. Plonco: "kegiatan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru". Menurut saya hal ini perlu direvisi.

OSPEK
Perploncoan
Jadi, permasalahan sesungguhnya ada pada kegiatan perploncoan di dalam kegiatan ospek. Kurangnya pengawasan, kontrol dan koordinasi berbagai pihak adalah penyebab kenapa perploncoan bisa ada di lingkungan akademis seperti kampus atau sekolah.

Comments

Popular posts from this blog

Believe Me: Ternyata Cabut Gigi Itu Tidak Sakit!

Saya mau share pengalaman cabut gigi yang bagi sebagian orang begitu "horor". Seperti biasa, sebelum dicabut saya tanya sana-sini. Yang ditanya ya macam-macam. Mulai dari biaya, dokter, tempat dan pastinya: "sakit nggak siiihh?". Karena ini pengalaman pertama, maka saya akan ulas tuntas bagi para pembaca.
Selasa, 25 Juni 2013 saya telah resmi kehilangan 2 geraham. Ingat, dua. Harus diakui, untuk urusan gigi saya memang bukan contoh yang baik, khususnya bagi anak-anak.
Problem Gigi
2 geraham bawah kiri saya sudah dalam keadaan kritis. Dokter bilang nomor 36, 37 (ternyata gigi punya nomer antrian juga). Kondisinya? Kayak tanah dihantam meteor. Saya gak akan beri gambaran lebih detil deh..., parah.
Kunjungan Pertama Oke, lanjut. Seminggu sebelumnya saya sudah datang, tapi berhubung gusi sedang meradang, operasi pun batal. Saya hanya diberi antibiotik dan sejenis painkiller. Sebenarnya bayar, kena Rp50000. Hehehehee...
Kunjungan Yang Kedua
Seminggu berlalu, bengkak pun hi…

Perbedaan Jacket, Sweater, Cardigan, Jas dan Blazer

Mungkin sudah banyak yang mengetahui 5 jenis outerwear ini, tapi masih banyak juga yang keliru membedakannya. Blazer disebut jacket, cardigan disebut sweater dan begitu seterusnya. Agar tidak salah kaprah, berikut perbedaan masing-masingnya. 1. Jacket Jacket adalah outerwear yang memiliki banyak varian bahan dan desain seperti kulit, parasut, denim. Umumnya memakai bahan yang kedap air atau tidak mudah basah serta berat dan akan terasa gerah jika dipakai dalam waktu yang lama.
2. Sweater Sweater adalah outerwear berkontur tebal dengan bahan yang lembut dan hangat. Biasanya dari benang wol. Kekeliruan sering terjadi saat menyebut sweater sebagai cardigan. Sweater merupakan terusan, tanpa kancing atau resleting.
3. Cardigan  Cardigan bisa dibilang turunan dari sweater tapi dengan kontur yang lebih tipis dan slim. Desain cardigan bisa dibilang seperti hasil 'kawin silang' antara sweater dengan kemeja, hal yang jadi perbedaan dasar antara sweater dengan cardigan.
4. Jas Jas merupakan…

Aturan Mengenai Lagu Plagiat

Lagu plagiat tak lagi berdasar pada 8 bar! Undang-Undang Hak Cipta Tahun 2002 sebagai perbaikan dari Undang-Undang Hak Cipta Tahun 1982 mulai disosialisasikan. Musisi Indonesia dituntut lebih kreatif dan hati-hati dalam mengarang lagu.

Salah satu hal yang paling ditekankan dalam sosialisasi tersebut adalah hal baru yang disebut substantial part. ”Yaitu, bagian terpenting dalam musik yang pernah dikenal orang,” jelas James F.Sundah, musisi senior sekaligus ketua bidang teknologi informasi dan apresiasi seni PAPPRI. Substantial part mempertegas batasan sebuah lagu dikatakan plagiat atau tidak. Sebelumnya, kata James, sebuah lagu dikatakan plagiat alias menyontek jika memiliki kesamaan dengan lagu lainnya sebanyak 8 bar.

”Tapi, dengan aturan baru ini, belum sampai satu bar pun, jika sudah terdengar seperti lagu milik orang lain, bisa dikatakan plagiat,” jelasnya setelah pengumuman Lomba Cipta Nyanyian Anak Bangsa 2008 di Hotel Millenium Minggu.
Kesamaan itu bisa dalam bentu…