Skip to main content

Masalah Ya Kalau Nggak Bisa Main Gitar?

Gitar bisa dibilang alat musik rakyat, kenapa? Karena gitar bisa mengiringi beragam jenis musik dan lagu. Gitar juga bisa jadi alat untuk bersosialisasi. 

Cowok yang bisa atau jago main gitar bakal di cap sebagai orang yang friendly dan keren, khususnya bagi cewek. Masalahnya ada beberapa cowok yang nggak bisa. Trus, apa nggak bisa main gitar itu bakal jadi masalah?
Belajar, Gitar
Belajar Main Gitar.
Waktu gue SMP dulu, banyak teman-teman yang udah / mulai belajar gitar. Gue? Ga tertarik. Eh, sebenarnya ada gengsi dan malu sih, karena udah ketinggalan jauh. Jadi mikirnya "udahlah, dah telat juga kalo sekarang". Terbukti, sampe kuliah rickorockers nggak bisa main gitar.

Harus diakui, nggak bisa main gitar kadang bikin minder. Sering, pas nongkrong ada teman yang kasi gitar, "nih bro, mainkan". Sambil cengengesan gue cuma jawab "sorry, gak bisa main gitar bray". Rasanya sungguh terlalu. Padahal setelan hari-hari gue nggak bedalah ama anak band. Pret!

Pas adik pertama (cowok) masuk SMP, langsung kepikiran kayak gini: "oke, cukup gue aja, jangan dia juga...". Layaknya pria tua yang kembali jatuh cinta. Akhirnya gue putusin buat beli gitar. Rajin banget nabung buat beli gitar yang gimana cara mainnya aja gak tau.

Trus apa hasilnya? Dengan belajar otodidak, sekarang gue udah bisa main gitar, yaaa walau cuma sekedar bisa. Chord-chord dasar untuk bawain 2 atau 3 lagu. Lumayanlah. Sekarang kalo disodorin gitar gue udah bisa bawain beberapa lagu. Nggak minder lagi kayak dulu.

Trus, gimana sama adik gue? Waktu SMP dia udah sering ke studio rental dan pas SMA udah punya band sendiri. Dia juga sering ikut beberapa festival. Terus berlanjut sampe dia kuliah.

Yaaaa...walau di bandnya dia jadi drummer sih... *tepokjidat.

Oke, dari cerita di atas gue bikin kesimpulan kayak gini: ga ada masalah kalo ngga bisa main gitar, tapi kalo ga bisa main gitar bisa jadi masalah, kenapa nggak dicoba? Nggak harus pandai, cukup bisa aja.

Comments

Popular posts from this blog

Believe Me: Ternyata Cabut Gigi Itu Tidak Sakit!

Saya mau share pengalaman cabut gigi yang bagi sebagian orang begitu "horor". Seperti biasa, sebelum dicabut saya tanya sana-sini. Yang ditanya ya macam-macam. Mulai dari biaya, dokter, tempat dan pastinya: "sakit nggak siiihh?". Karena ini pengalaman pertama, maka saya akan ulas tuntas bagi para pembaca.
Selasa, 25 Juni 2013 saya telah resmi kehilangan 2 geraham. Ingat, dua. Harus diakui, untuk urusan gigi saya memang bukan contoh yang baik, khususnya bagi anak-anak.
Problem Gigi
2 geraham bawah kiri saya sudah dalam keadaan kritis. Dokter bilang nomor 36, 37 (ternyata gigi punya nomer antrian juga). Kondisinya? Kayak tanah dihantam meteor. Saya gak akan beri gambaran lebih detil deh..., parah.
Kunjungan Pertama Oke, lanjut. Seminggu sebelumnya saya sudah datang, tapi berhubung gusi sedang meradang, operasi pun batal. Saya hanya diberi antibiotik dan sejenis painkiller. Sebenarnya bayar, kena Rp50000. Hehehehee...
Kunjungan Yang Kedua
Seminggu berlalu, bengkak pun hi…

Perbedaan Jacket, Sweater, Cardigan, Jas dan Blazer

Mungkin sudah banyak yang mengetahui 5 jenis outerwear ini, tapi masih banyak juga yang keliru membedakannya. Blazer disebut jacket, cardigan disebut sweater dan begitu seterusnya. Agar tidak salah kaprah, berikut perbedaan masing-masingnya. 1. Jacket Jacket adalah outerwear yang memiliki banyak varian bahan dan desain seperti kulit, parasut, denim. Umumnya memakai bahan yang kedap air atau tidak mudah basah serta berat dan akan terasa gerah jika dipakai dalam waktu yang lama.
2. Sweater Sweater adalah outerwear berkontur tebal dengan bahan yang lembut dan hangat. Biasanya dari benang wol. Kekeliruan sering terjadi saat menyebut sweater sebagai cardigan. Sweater merupakan terusan, tanpa kancing atau resleting.
3. Cardigan  Cardigan bisa dibilang turunan dari sweater tapi dengan kontur yang lebih tipis dan slim. Desain cardigan bisa dibilang seperti hasil 'kawin silang' antara sweater dengan kemeja, hal yang jadi perbedaan dasar antara sweater dengan cardigan.
4. Jas Jas merupakan…

Aturan Mengenai Lagu Plagiat

Lagu plagiat tak lagi berdasar pada 8 bar! Undang-Undang Hak Cipta Tahun 2002 sebagai perbaikan dari Undang-Undang Hak Cipta Tahun 1982 mulai disosialisasikan. Musisi Indonesia dituntut lebih kreatif dan hati-hati dalam mengarang lagu.

Salah satu hal yang paling ditekankan dalam sosialisasi tersebut adalah hal baru yang disebut substantial part. ”Yaitu, bagian terpenting dalam musik yang pernah dikenal orang,” jelas James F.Sundah, musisi senior sekaligus ketua bidang teknologi informasi dan apresiasi seni PAPPRI. Substantial part mempertegas batasan sebuah lagu dikatakan plagiat atau tidak. Sebelumnya, kata James, sebuah lagu dikatakan plagiat alias menyontek jika memiliki kesamaan dengan lagu lainnya sebanyak 8 bar.

”Tapi, dengan aturan baru ini, belum sampai satu bar pun, jika sudah terdengar seperti lagu milik orang lain, bisa dikatakan plagiat,” jelasnya setelah pengumuman Lomba Cipta Nyanyian Anak Bangsa 2008 di Hotel Millenium Minggu.
Kesamaan itu bisa dalam bentu…